Senjata Pemberantas Demam Berdarah Bag10

Tapi, sejak nyamuk ber-Wolbachia disebar, baru ada satu kasus pada Juni lalu. Itu pun diduga ditularkan bukan di dusunnya, melainkan di tempat lain. ”Tingkat mobilitas penduduk di sini tinggi, rata-rata pegawai kantoran atau karyawan lepas,” tuturnya. Menurut Adi, warga yang terkena demam berdarah seperti ini masuk radar timnya. Mereka kemudian memantau penularan setempat, dengan jarak 200 meter dari tempat tinggal penderita, dalam waktu dua pekan, sesuai dengan rata-rata jangkauan terbang dan umur nyamuk betina.

Jika dalam jarak dan waktu itu ada warga lain yang terkena, berarti nyamuk pembawa virus denguenya ada di sana. ”Tapi dari hasil penelitian tidak ada penularan setempat.” Adi mengatakan ini pertanda baik. Tapi bukan berarti warga bisa mengandalkan nyamuk ber-Wolbachia untuk memberantas demam berdarah. Metode ini hanya sebagai penunjang. Cara utamanya, menurut Adi, tetap dengan memberantas sarang nyamuk karena ada banyak jenis nyamuk lain yang mengganggu kesehatan.

Keajaiban Bermain Origami

Banyak hal yang dipelajari prasekolah dari seni melipat kertas ini. Di antaranya konsep matematika dan bagaimana mengoordinasikan gerak mata dan tangan. Suatu hari Resta membelikan jagoan kecil- nya kertas lipat alias kertas origami. Radya (5), bingung melihat kertas warna-warni itu dan bertanya apakah itu.

Baca juga : toefl ibt jakarta

“Ini kertas origami, Nak. Ibu mau ajarin Radya melipat dan membuat sesuatu dari kertas-kertas ini.” “Umm…. seperti Ibu buatin pesawat kertas itu?” “Iya! Yuk, kita buat sama-sama, mulai dari bentuk ikan, mau?” Radya mengangguk senang dan penuh semangat. Bersama-sama, Resta dan Radya mulai membuat lipatan di kertas yang ada, sampai membentuk sebuah ikan. Lalu gantian Radya yang melipat sendiri, hingga ia bisa membuat ikan warna-warni. Sejak hari itu, Radya senang jika diajak bermain origami. PERKEMBANGAN KOGNITIF DAN MOTORIK Sudah sejak lama origami menjadi salah satu pembelajaran yang memfasilitasi perkembangan kognitif dan motorik anak. Lazim kita menemukan di kelas-kelas PAUD dan TK bagaimana belajar melipat kertas dan membuat beragam bentuk.

Dalam aktivitas origami, koordinasi dan kendali motorik memainkan peranan penting. Setiap lipatan kertas dihasilkan oleh interaksi pemikiran dan tindakan. Anak melihat bagaimana setiap lipatan menghasilkan satu bentuk tertentu, dan semakin banyak lipatan bisa menghasilkan wujud suatu benda. Ini juga mengajari anak apa yang disebut sebagai proses: berawal dari satu lembar kertas, secara bertahap dilipat sedemikian rupa, dan membentuk suatu benda. Sementara itu, tingkat kesulitan origami pun beragam, sehingga aktivitas ini cocok untuk diterapkan di berbagai tingkatan usia.

Kurt W. Fischer, seorang ahli psikologi perkembangan di University of Denver menjelaskan, perkembangan individu itu berkelanjutan dan naik secara bertahap. Pada setiap tahap, seseorang akan terus berkembang, tidak melulu sama di setiap tingkatnya. Perkembangan keterampilan harus didorong juga oleh lingkungan, agar keterampilan itu betul-betul dikuasai oleh individu tersebut. Sama halnya dengan anak, begitu anak ‘naik kelas’ atau bertambah usia, ia pun membutuhkan aktivitas yang lebih kompleks demi mengembangkan ragam keterampilan dirinya.

Sumber : https://pascal-edu.com/

Percakapan Rahasia Pelindung Nurhadi Bag14

Jauh benar, nih, kabur sementara. Akhir Agustus lalu, Ketua KPK Agus Rahardjo mengatakan sudah mengetahui lokasi keberadaan Royani. Tapi, sampai akhir pekan lalu, belum ada perkembangan menyangkut bekas pegawai Mahkamah Agung itu. Begitu juga dengan pemeriksaan empat ajudan Nurhadi yang sebelumnya secara mendadak ditarik bertugas ke Poso, Sulawesi Tengah, untuk menumpas jaringan teroris Santoso.

”Dalam waktu secepatnya kami akan memeriksa mereka,” ujar Agus. Ketika bersaksi dalam sidang Doddy, Nurhadi membantah menerima suap dari Grup Lippo, bahkan melalui Royani. ”Saya diftnah luar biasa. Terlalu sering nama saya dicatut dan dijual,” kata Nurhadi, yang mundur dari posisi Sekretaris Mahkamah Agung pada 1 Agustus lalu. Ia juga membantah menyembunyikan Royani.

Lewat Jam Ke-72

Uji saring neonatus dilakukan pada 72 hingga120 jam setelah kelahiran untuk memastikan ada atau tidak ada penyakit. Apakah Mama pernah terkena toksoplasma pada saat hamil? Bila ya, sebaik- nya lakukan uji saring neonatus begitu bayi dilahirkan untuk melihat kemungkinan bayi terkena penyakit bawaan dari ibu atau tidak.

Baca juga : Beasiswa s2 Jerman

Seperti kita ketahui, infeksi toksoplasma dapat menyebabkan bayi mengalami gangguan pendengaran, keterbelakangan mental, dan celebral palsy. Pada prinsipnya, menurut dr. Pulung Silalahi, SpA, skrining pada bayi baru lahir dilakukan bila ada kecurigaan kondisi ibu saat hamil dapat memengaruhi tumbuh kembang bayi. Selain ibu yang menderita toksoplasma, ibu yang menderita hipotiroid pun disarankan. Begitu pula ibu yang hamil di atas usia 35 tahun ke atas, ibu yang mengidap penyakit keturunan (seperti talasemia), atau ibu yang saat hamil menderita anemia.

 

“Anemia selain meningkatkan risiko keguguran, lahir prematur, serta persalinan terhambat, juga bisa menyebabkan gangguan dan kerusak an pertumbuhan otak pada janin. Karena itulah bayi dari ibu yang menderita anemia, sebaiknya melakukan uji saring neonatus.” Bayi dari ibu hamil yang terkena infeksi rubela pada trimester pertama pun, akan dianjurkan menjalani tes tersebut. Ingat, infeksi rubela dapat menyebabkan kebutaan, ketulian, kelainan jantung, dan keterbelakangan mental.

“Begitu juga ibu hamil yang terinfeksi Cytomegalovirus (CMV) yang disebabkan virus Cytomegalo, Virus yang termasuk virus herpes ini, dapat menyebabkan cacat bawaan pada janin,” jelas Pulung. Skrining atau uji saring neonatus adalah pemeriksaan yang dilakukan pada 72–120 jam setelah kelahiran untuk mendeteksi adanya kemungkin an penyakit yang dapat mengganggu tumbuh kembang bayi, bahkan berakibat komplikasi serius.

Dengan uji saring neonatus akan teridentifi kasi kelainan pada bayi, sehingga bayi dapat mendapatkan pengobatan sedini mungkin agar dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. PERIKSA DARAH Bagaimana uji saring neonatus dilakukan? Cukup sederhana, yaitu dengan melakukan pemeriksaan darah pada bayi. Biasanya diambil dari tumit bayi (heel prick) kemudian diteteskan pada kertas saring. Dengan pemeriksaan sederhana yang dilakukan satu kali ini, sudah bisa didapat hasil akurat tentang penyakit pada bayi.

Sumber : https://ausbildung.co.id/

 

 

Satu Ismail, Lima Disertasi Bag6

Keduanya menggunakan metodologi yang sama, yakni metode evaluasi penelitian program. Nur Alam memilih BPR Bahteramas sebagai subyek liputan, sementara Nur Endang memilih KB Bahteramas. Tim Evaluasi bahkan menemukan 74 persen bab I disertasi Nur Alam adalah hasil plagiat. Mereka menggunakan software Turnitin untuk mendeteksi kutipan haram dalam lima disertasi itu.

Turnitin adalah teknologi yang membaca apakah kalimat yang ditulis pernah dimuat di situs atau jurnal lain. Ia mengutip dari berbagai media seperti blog, buku, dan disertasi lain tanpa mencantumkan sumbernya. Dari penelusuran Tempo, Nur Alam mengutip nyaris satu paragraf penuh tulisan di blog yang berisi kumpulan berbagai jurnal dan tesis di bab I yang berisi pendahuluan disertasinya.

Pilih yang Mana ?

Inilah beberapa pilihan alat bantu yang dapat digunakan untuk merangsang kemampuan berjalan sendiri pada anak. Sebenarnya, penggunaan alat bantu berjalan un- tuk anak masih memicu pro dan kontra di dunia kedokteran. Ada dokter yang berpendapat, proses belajar berjalan sendiri, hendaknya dilakukan secara natural dan tidak ada satu alat bantu pun yang terbukti secara ilmiah bisa membantu mempercepat anak dalam menguasai kemampuan berjalan sendiri. Tetapi, ada pula dokter yang beranggapan kalau beberapa alat bantu berjalan dapat digunakan untuk melatih anak berjalan. Nah jadi, apakah akan menggunakannya atau tidak, keputusan ada di tangan kita.

Baca juga : Beasiswa S1 Jerman Full

# Walking Assistant Alat ini berbentuk tali yang terhubung dengan kain pengikat di dada dan bawah ketiak. Ikatan di bagian dada bisa diatur tingkat ke kencangannya. Biasanya digunakan sejak si kecil berusia 9 bulan atau disesuaikan dengan kemampuan. Pastikan anak berdiri bukan karena ditahan oleh alat ini, tetapi ia memang berdiri sendiri. Walking Assistant ha nya mencegah anak supaya tidak mudah jatuh. Jangan sampai anak dalam posisi melayang. Alat ini mudah ditemukan di mana saja, mulai toko perlengkapan bayi, seperti Mothercare, hingga pusat belanja online, seperti: lazada.co.id, atau tokopedia.com

# Exersaucer Perlengkapan ini membantu anak untuk belajar berdiri, melompat, dan berputar, namun tetap berada di satu tempat. Umumnya , berbentuk mirip dengan baby walker, tapi tanpa roda, sehingga lebih aman. Ada pula bentuk lainnya. Contoh dari Exersaucer adalah “Around We Go” dan “Jumperoo” dari Bright Starts. Mama juga bisa melatih ke kuatan kaki anak sambil bermain memakai “Giraffe Trampoline” buatan Early Learning Centre (ELC). Namun, karena posisinya yang hanya diam di satu tempat, mungkin bisa membuat anak mudah bosan. Untuk itu, diperlukan kreativitas Mama agar permainan menjadi terus menarik hati si kecil.

# Push Walker Semacam mainan yang bisa didorong dengan berbagai bentuk, misalnya kereta, mobil, troli, dan lainnya. Alat ini dapat memicu anak untuk mendorong sambil berpegangan de ngan cara menyenangkan. Pastikan untuk mendampingi anak di sampingnya, karena anak bisa terlalu kencang mendorong ke depan atau terjerembap ke belakang bila tidak berhati-hati. Produk “Stride To Ride Lion” dari Fisher Price yang tersedia di toko peralatan anak dan hypermarket seperti Lotte Mart ini, bisa menjadi pilihan Mama. Selain bisa didorong, anak juga dapat menaikinya. Warna, lekuk, serta bentuk yang menarik membuat fase belajar berjalan jadi terasa lebih menyenangkan. Juga, bisa merangsang motorik halus, keseimbangan, dan koordinasi anak.

Sumber : https://ausbildung.co.id/

Menghubungkan Indonesia, Membangun Perekonomian Daerah Bag2

Kondisi ini adalah imbas dari kebijakan pemerintah yang telah mendorong peningkatan konektivitas antardaerah di Indonesia melalui pembangunan infrastruktur transportasi dan logistik. Ini pula yang mendorong daya saing infrastruktur Indonesia dalam Global Competititveness Report yang dikeluarkan World Economic Forum (WEF), naik peringkat dari posisi ke-62 pada 2015 menjadi peringkat ke-60 pada 2016. Pembangunan sektor transportasi Indonesia saat ini hampir merata, baik darat, laut, udara, maupun kereta api.

Ada sejumlah program pembangunan yang tengah dijalankan, antara lain pembangunan tol laut, pelabuhanpelabuhan baru, pembangunan bandar udara (bandara) baru dan merevitalisasi bandara lama, MRT dan kereta cepat, serta pembangunan tol yang menghubungkan antarprovinsi. Pengamat transportasi, Djoko Setijowarno, mengatakan salah satu hal menggembirakan dari pembangunan infrastruktur transportasi tidak hanya dilakukan di Pulau Jawa, tapi juga di berbagai daerah, termasuk daerah tertinggal, terdepan, dan terluar atau disebut 3T.

Cara Hentikan Ngempeng Anak

Kalau di usia batita si kecil masih ngempeng, mulai bujuk ia untuk tidak lagi menggunakannya. Terus-terusan ngempeng akan mengganggu pertumbuhan gigi, wicara, hingga sosialisasinya. Mengisap sesuatu memang membuat balita nyaman dan tenang. Bahkan waktu janin, mungkin Mama ingat saat diperiksa dengan USG, di layar, janin tampak asyik mengisap jempolnya?

Baca juga : Kursus Bahasa Jepang di Jakarta Selatan

Nantinya setelah lahir, mengisap ini ternyata refl eks yang membantu si kecil untuk bisa pintar mengisap ASI. Ya, kebiasaan mengisap ternyata merupakan cara dan upaya alami bayi untuk mendapatkan rasa tenang dan nyaman di dunia baru di luar rahim Mama, yang belum terlalu dikenalnya. Alasan inilah yang mendasari para Mama yang pro alias setuju memberikan empeng (pacifier) kepada bayinya.

Di lain pihak, karena hasrat mengisap yang sudah terpuaskan melalui dot atau empeng, bayi jadi malas mengisap puting payudara Mama. Inilah alasan mereka tidak setuju memberi dot. Sebagai jalan tengah, Dr. Cynthia R. Howard, MPH, dokter spesialis anak dari The University of Rochhester School of Medicine and Dentistry, New York, (AS) mengatakan, ASI melalui dot dan pemberian empeng sebaiknya digunakan pada usia 10-12 bulan, dan saat Mama tidak berada di rumah. Howard juga mengatakan, setelah masuk usia batita, sebaiknya dot diganti dengan gelas, dan empeng harus ditinggalkan.

Gangguan Tak Perlu

Pengertian empeng atau ngempeng, secara harafi ah sebetulnya berarti mengisap dot kosong tanpa susu. Namun kadang pengertian ini kadang dirancukan juga dengan kebiasaan untuk mengisap benda-benda lain. Seperti mengisap jempol (thumb sucking), pilinan selimut dan bisa juga mengisap ujung bantal.

Hal ini lantaran ngempeng maupun mengisap jempol biasanya diikuti pula dengan kebiasaan memilinmilin selimut, mengisap pinggiran bantal, ataupun mendekap boneka dekilnya. Ngempeng berawal dari kebiasaan sejak bayi yang terus dibawa hingga besar, mengingat refleks yang muncul di awal kehidupan bayi adalah refleks mengisap. Entah mengisap ASI maupun mengisap susu dari botol. “Saat menyusu, bayi akan merasa nyaman karena berada didekat dada ibunya.

Sumber : https://eduvita.org/

Kerja Bersama Mewujudkan Konektivitas Indonesia

Konektivitas antardaerah menjadi salah satu kunci pertumbuhan ekonomi Indonesia. Bukan hanya kelancaran mobilitas orang dan barang, keterhubungan antardaerah juga menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di daerah serta mengangkat harkat masyarakatnya. Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan, pertumbuhan sektor perhubungan cukup menggembirakan karena mencapai angka di atas tujuh persen atau di atas pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) nasional.

Artinya dukungan sektor ini terhadap pertumbuhan ekonomi semakin baik. Pertumbuhan diprediksi akan lebih baik lagi seiring dengan proyek-proyek infrastruktur yang saat ini tengah dibangun. “Saat ini kami sedang mengerjakan banyak pelabuhan dan bandara (bandar udara), tidak hanya di kota-kota di Jawa tapi juga di luar Jawa,” katanya, Senin, 11 September 2017.

Katanya, Induksi Bisa Picu Autisme

Tahun lalu, sebuah studi yang dilakukan oleh peneliti dari Duke University di Durham melaporkan, bayi yang lahir dengan persalinan induksi mengalami peningkatan risiko autisme. Menurut Simon Gregory, sang peneliti, 27% lebih anak-anak yang lahir dari ibu dengan proses persalinan induksi, augmentasi, atau keduanya, berisiko terkena autisme. Penelitian tersebut menggunakan data kelahiran lebih dari 600 ribu anak yang lahir pada 1990-1998 di North Carolina, termasuk 5 ribu data anak yang didiagnosis autisme.

Baca juga : Beasiswa d3 ke S1 Luar Negeri

Induksi merupakan prosedur medis yang menghadirkan kontraksi rahim sebelum rahim menunjukkan tanda tanda kelahiran atau sebelum terjadinya kontraksi. Sedangkan augmentasi ialah prosedur yang mempercepat persalin an dimana rahim sudah mengalami kontraksi terlebih dahulu namun ber jalan lambat.

Dari penelitian itu terungkap, paparan hormon oksitosin yang digunakan dalam induksi persalinan dapat memengaruhi sistem saraf bayi, yang mungkin saja berpengaruh dalam peningkatan risiko autisme. Terlebih bila ditambah dengan kondisi kesehatan ibu yang bisa memperbesar risiko tersebut, seperti: usia, diabetes selama kehamilan, dan kelahiran prematur. Waduh! Coba, mamil mana yang enggak ciut hatinya mengetahui hasil penelitian yang diterbitkan dalam jurnal JAMA Pediatrics pada 2014 itu?

TIDAK TERBUKTI Tenang, Ma, sudah ada studi terbaru yang menjelaskan bahwa induksi tidak meningkatkan risiko autisme pada anak. Studi terbaru tersebut dideklarasikan pada konferensi tahunan Society for Maternal-Fetal Medicine pada 5 Februari 2015 di San Diego. Peneliti mengungkap, proses induksi tidak berkaitan dengan peningkatan gangguan autisme pada anak. Para peneliti yang merupakan dokter serta psikolog dari University of Utah tersebut menggunakan dan menganalisis data anak-anak kelahiran 1998-2006.

Setelah membandingkan 2.500 anak dengan gangguan autisme dan 166 ribu anak tanpa autisme, ditemukan bahwa anak-anak yang terkena induksi persalinan, augmentasi, atau keduanya, TIDAK mengalami pe ningkatan peluang autisme, baik pada anak laki-laki maupun perempuan. Bahkan, peneliti telah menyesuaikan dengan faktor-faktor penting lain, seperti: kesehatan sang mama, status ekonomi keluarga, kondisi selama kehamilan, serta tahun kelahiran. Dengan begitu, studi terbaru berjudul “Autism Spectrum Disorder and Induced/Augmented Labor: Epidemiologic Analysis of a Utah Cohort” ini dianggap lebih valid dan relevan.

Sumber : https://ausbildung.co.id/