Category Archives: Parenting

Pilih yang Mana ?

Inilah beberapa pilihan alat bantu yang dapat digunakan untuk merangsang kemampuan berjalan sendiri pada anak. Sebenarnya, penggunaan alat bantu berjalan un- tuk anak masih memicu pro dan kontra di dunia kedokteran. Ada dokter yang berpendapat, proses belajar berjalan sendiri, hendaknya dilakukan secara natural dan tidak ada satu alat bantu pun yang terbukti secara ilmiah bisa membantu mempercepat anak dalam menguasai kemampuan berjalan sendiri. Tetapi, ada pula dokter yang beranggapan kalau beberapa alat bantu berjalan dapat digunakan untuk melatih anak berjalan. Nah jadi, apakah akan menggunakannya atau tidak, keputusan ada di tangan kita.

Baca juga : Beasiswa S1 Jerman Full

# Walking Assistant Alat ini berbentuk tali yang terhubung dengan kain pengikat di dada dan bawah ketiak. Ikatan di bagian dada bisa diatur tingkat ke kencangannya. Biasanya digunakan sejak si kecil berusia 9 bulan atau disesuaikan dengan kemampuan. Pastikan anak berdiri bukan karena ditahan oleh alat ini, tetapi ia memang berdiri sendiri. Walking Assistant ha nya mencegah anak supaya tidak mudah jatuh. Jangan sampai anak dalam posisi melayang. Alat ini mudah ditemukan di mana saja, mulai toko perlengkapan bayi, seperti Mothercare, hingga pusat belanja online, seperti: lazada.co.id, atau tokopedia.com

# Exersaucer Perlengkapan ini membantu anak untuk belajar berdiri, melompat, dan berputar, namun tetap berada di satu tempat. Umumnya , berbentuk mirip dengan baby walker, tapi tanpa roda, sehingga lebih aman. Ada pula bentuk lainnya. Contoh dari Exersaucer adalah “Around We Go” dan “Jumperoo” dari Bright Starts. Mama juga bisa melatih ke kuatan kaki anak sambil bermain memakai “Giraffe Trampoline” buatan Early Learning Centre (ELC). Namun, karena posisinya yang hanya diam di satu tempat, mungkin bisa membuat anak mudah bosan. Untuk itu, diperlukan kreativitas Mama agar permainan menjadi terus menarik hati si kecil.

# Push Walker Semacam mainan yang bisa didorong dengan berbagai bentuk, misalnya kereta, mobil, troli, dan lainnya. Alat ini dapat memicu anak untuk mendorong sambil berpegangan de ngan cara menyenangkan. Pastikan untuk mendampingi anak di sampingnya, karena anak bisa terlalu kencang mendorong ke depan atau terjerembap ke belakang bila tidak berhati-hati. Produk “Stride To Ride Lion” dari Fisher Price yang tersedia di toko peralatan anak dan hypermarket seperti Lotte Mart ini, bisa menjadi pilihan Mama. Selain bisa didorong, anak juga dapat menaikinya. Warna, lekuk, serta bentuk yang menarik membuat fase belajar berjalan jadi terasa lebih menyenangkan. Juga, bisa merangsang motorik halus, keseimbangan, dan koordinasi anak.

Sumber : https://ausbildung.co.id/

Cara Hentikan Ngempeng Anak

Kalau di usia batita si kecil masih ngempeng, mulai bujuk ia untuk tidak lagi menggunakannya. Terus-terusan ngempeng akan mengganggu pertumbuhan gigi, wicara, hingga sosialisasinya. Mengisap sesuatu memang membuat balita nyaman dan tenang. Bahkan waktu janin, mungkin Mama ingat saat diperiksa dengan USG, di layar, janin tampak asyik mengisap jempolnya?

Baca juga : Kursus Bahasa Jepang di Jakarta Selatan

Nantinya setelah lahir, mengisap ini ternyata refl eks yang membantu si kecil untuk bisa pintar mengisap ASI. Ya, kebiasaan mengisap ternyata merupakan cara dan upaya alami bayi untuk mendapatkan rasa tenang dan nyaman di dunia baru di luar rahim Mama, yang belum terlalu dikenalnya. Alasan inilah yang mendasari para Mama yang pro alias setuju memberikan empeng (pacifier) kepada bayinya.

Di lain pihak, karena hasrat mengisap yang sudah terpuaskan melalui dot atau empeng, bayi jadi malas mengisap puting payudara Mama. Inilah alasan mereka tidak setuju memberi dot. Sebagai jalan tengah, Dr. Cynthia R. Howard, MPH, dokter spesialis anak dari The University of Rochhester School of Medicine and Dentistry, New York, (AS) mengatakan, ASI melalui dot dan pemberian empeng sebaiknya digunakan pada usia 10-12 bulan, dan saat Mama tidak berada di rumah. Howard juga mengatakan, setelah masuk usia batita, sebaiknya dot diganti dengan gelas, dan empeng harus ditinggalkan.

Gangguan Tak Perlu

Pengertian empeng atau ngempeng, secara harafi ah sebetulnya berarti mengisap dot kosong tanpa susu. Namun kadang pengertian ini kadang dirancukan juga dengan kebiasaan untuk mengisap benda-benda lain. Seperti mengisap jempol (thumb sucking), pilinan selimut dan bisa juga mengisap ujung bantal.

Hal ini lantaran ngempeng maupun mengisap jempol biasanya diikuti pula dengan kebiasaan memilinmilin selimut, mengisap pinggiran bantal, ataupun mendekap boneka dekilnya. Ngempeng berawal dari kebiasaan sejak bayi yang terus dibawa hingga besar, mengingat refleks yang muncul di awal kehidupan bayi adalah refleks mengisap. Entah mengisap ASI maupun mengisap susu dari botol. “Saat menyusu, bayi akan merasa nyaman karena berada didekat dada ibunya.

Sumber : https://eduvita.org/

Katanya, Induksi Bisa Picu Autisme

Tahun lalu, sebuah studi yang dilakukan oleh peneliti dari Duke University di Durham melaporkan, bayi yang lahir dengan persalinan induksi mengalami peningkatan risiko autisme. Menurut Simon Gregory, sang peneliti, 27% lebih anak-anak yang lahir dari ibu dengan proses persalinan induksi, augmentasi, atau keduanya, berisiko terkena autisme. Penelitian tersebut menggunakan data kelahiran lebih dari 600 ribu anak yang lahir pada 1990-1998 di North Carolina, termasuk 5 ribu data anak yang didiagnosis autisme.

Baca juga : Beasiswa d3 ke S1 Luar Negeri

Induksi merupakan prosedur medis yang menghadirkan kontraksi rahim sebelum rahim menunjukkan tanda tanda kelahiran atau sebelum terjadinya kontraksi. Sedangkan augmentasi ialah prosedur yang mempercepat persalin an dimana rahim sudah mengalami kontraksi terlebih dahulu namun ber jalan lambat.

Dari penelitian itu terungkap, paparan hormon oksitosin yang digunakan dalam induksi persalinan dapat memengaruhi sistem saraf bayi, yang mungkin saja berpengaruh dalam peningkatan risiko autisme. Terlebih bila ditambah dengan kondisi kesehatan ibu yang bisa memperbesar risiko tersebut, seperti: usia, diabetes selama kehamilan, dan kelahiran prematur. Waduh! Coba, mamil mana yang enggak ciut hatinya mengetahui hasil penelitian yang diterbitkan dalam jurnal JAMA Pediatrics pada 2014 itu?

TIDAK TERBUKTI Tenang, Ma, sudah ada studi terbaru yang menjelaskan bahwa induksi tidak meningkatkan risiko autisme pada anak. Studi terbaru tersebut dideklarasikan pada konferensi tahunan Society for Maternal-Fetal Medicine pada 5 Februari 2015 di San Diego. Peneliti mengungkap, proses induksi tidak berkaitan dengan peningkatan gangguan autisme pada anak. Para peneliti yang merupakan dokter serta psikolog dari University of Utah tersebut menggunakan dan menganalisis data anak-anak kelahiran 1998-2006.

Setelah membandingkan 2.500 anak dengan gangguan autisme dan 166 ribu anak tanpa autisme, ditemukan bahwa anak-anak yang terkena induksi persalinan, augmentasi, atau keduanya, TIDAK mengalami pe ningkatan peluang autisme, baik pada anak laki-laki maupun perempuan. Bahkan, peneliti telah menyesuaikan dengan faktor-faktor penting lain, seperti: kesehatan sang mama, status ekonomi keluarga, kondisi selama kehamilan, serta tahun kelahiran. Dengan begitu, studi terbaru berjudul “Autism Spectrum Disorder and Induced/Augmented Labor: Epidemiologic Analysis of a Utah Cohort” ini dianggap lebih valid dan relevan.

Sumber : https://ausbildung.co.id/

Ketika Si Kecil Batuk Bag3

RESEP MURAH MERIAH “Jika si kecil sakit, orangtua sedih. Kalau kena batuk, dia belum bisa mengeluarkan dahaknya sendiri. Kasihan, kan jadi tersiksa. Berikut ada cara murah meriah untuk atasi permasalahan itu. Sediakan baskom ukuran sedang, isi air hangat secukupnya, teteskan minyak telon/ minyak kayu putih, lalu siapkan handuk kecil. Letakkan baskom di bawah kaki Mama, kemudian rebahkan si kecil di paha Mama dengan posisi wajahnya menghadap baskom, ya. Uap akan terhirup dengan sendirinya oleh si kecil. Setelah lama terhirup, dengan sendirinya lendir akan keluar dari hidung dan mulut. Coba deh.” Neti purdianti, mama dari Arsyila Byanka R (8,5 bulan)

 

Ketika Si Kecil Batuk

DITEPUK-TEPUK “Alhamdulillah, anakku jarang terkena batuk. Tapi pas sakit batuk, kasihan lihatnya. Kalau sudah batuk, selain tidurnya terganggu, istirahatnya juga berkurang. Jadinya dia rewel. Walau demikian, saya tidak pernah memberinya obat batuk. Saya hanya memberikannya ASI, juga mengoleskannya balsam penghangat untuk bayi usai mandi dan saat tidur, lalu ditepuk-tepuk. Setelah itu biasanya keluar dahak atau lendirnya. Paginya juga saya jemur sambil ditepuk-tepuk bagian punggung dekat leher agar dahak keluar.” Sulastri, mama dari Raditya Yodha Sayekti (20 bulan)

Baca juga : Kursus Bahasa Jerman di Jakarta

DIBERI BUAH BUAHAN SEGAR “Anak-anakku ceria dan aktif. Alhamdulillah, anakku jarang sa kit karena ke duanya aku beri ASI. Tapi kalau daya tahan tubuhnya sedang drop karena cuaca ekstrem atau polusi, anakku batuk juga. Kadang kalau Danis batuk sampai muntah, lalu lemas, deh. Kalau sudah begitu, saya ka sih makanan bervitamin tinggi, seperti: buah-buahan segar, banyak minum air putih dan mengurangi makanan yang memicu batuknya.” Novieta, mama dari Danish Faeyza Alvian (4,7)

DIBERI JERUK NIPIS “Jika Si Kakak batuk, saya punya obat andalan, yaitu jeruk nipis yang diperas airnya lalu dicampur air hangat. Kakak Nayoda sangat suka jika saya membuatkan jeruk nipis hangat. Katanya, enak! He he… bagaimana tidak enak? Jeruk nipis hangatnya saya beri tambahan madu. Selain jeruk nipis hangat, jahe pun bisa lo menjadi obat. Cara membuatnya, pipihkan jahe lalu rebus dengan dua gelas air. Setelah mendidih tambahkan madu. Kalau kata Kakak Nayoda, bikin hangat tenggorokan.” Indri Syakira, mama dari Nayoda Zadran Alkarakhi (3)

GARA-GARA AYAH waktu itu ayah flu, saya minta untuk jauh jaih dari si kecil  Tapi, namanya juga ayah, saat rasa kangen memuncak, dia mencium Delta dan menggendongnya tanpa sepengetahuan saya. Malam harinya Dedek Delta tidur nya nggak nyenyak. Esoknya, hidungnya mampat, lalu batuk, dan terdengar suara grok-grok saat bernapas. Saya ajak si kecil ke bi dan dan dianjurkan untuk memperbanyak ASI. Paginya saya jemur dia sambil dipangku. Alhamdulillah, seminggu kemudian Delta sembuh tanpa obat.” Yuyun Churnia, mama dari Delta Rizky Langit Ramadhan (3 bulan)

Pilah Pilih Minuman Bag2

MINUMAN MANIS KEMASAN Sangat dibatasi, sebisa mungkin tidak sering dikonsumsi. Bisa melonjakkan kadar gula darah Mama dengan cepat, sehingga tubuh menjadi mudah lelah karena harus mencerna gula. Padahal, Mama butuh asupan energi yang lebih sehat untuk memperlancar proses menyusui. Selain itu, kandungan gula yang sangat tinggi pada minuman kemasan dapat menyulitkan Mama dalam memperoleh berat badan ideal.

Baca juga : Tes Toefl Jakarta

MINUMAN ISOTONIK & BERSODA Dibatasi, cukup sekali dalam seminggu atau tidak sama sekali. Minuman berenergi maupun bersoda memiliki kandungan bikarbonat yang mengikat kalsium, sehingga penyerapan kalsium menjadi terganggu. Padahal Mama membutuhkan kalsium untuk memproduksi ASI yang berkualitas.

JAMU/MINUMAN HERBAL PELANCAR ASI Sesuai anjuran dokter. Perlu ditinjau lebih dulu apakah ada kandungan yang berdampak pada bayi. Terlebih bila mengonsumsi jamu pe nyembuh luka nifas, ditakutkan ada kandungan yang terbawa melalui ASI. Karena metabolisme bayi belum sempurna, kemungkinan risiko bayi kuning semakin tinggi.

MAKANAN BERKUAH Semangkuk untuk makan siang atau malam. Tak hanya dalam bentuk minuman, Mama juga bisa mengasup cairan bagi tubuh lewat makanan berkuah. Ini bisa dijadikan solusi bagi Mama yang sering lupa minum karena jarang merasa haus. Termasuk Mama yang tak suka susu, sup bening sayuran berdaun hijau seperti brokoli, bayam, pokcoy, bisa memenuhi kebutuhan kalsium yang diperlukan untuk memproduksi ASI yang berkualitas.

Bolehkah Minuman Panas atau Dingin?

Mama menyusui tak boleh mengonsumsi minuman panas ataupun dingin. Pernah mendengar larangan ini, Ma? Alasannya, minuman panas bisa membuat bayi panas dalam dengan tanda-tanda bibir menjadi berwarna putih, sedang kan minuman dingin diyakini bisa membuat bayi terserang flu. Ternyata, larangan itu cuma mitos, Ma!

Saat kita makan es krim, minum es, atau sebaliknya, minum teh panas sekalipun, suhu ASI yang keluar akan mengikuti suhu tubuh kita, yaitu sekitar 37°C. Khusus minum an hangat, justru mama menyusui dianjurkan minum segelas air hangat sebelum menyusui agar produksi ASI maksimal. Meski belum ada penelitian yang menguji kebenaran pendapat tersebut, namun tak ada salahnya bila anjuran itu dituruti. Pasalnya, minum segelas air hangat sebelum menyusui membuat Mama cukup segar dan relaks, sehingga menyusui jadi lebih bersemangat.

Sumber : pascal-edu.com