Katanya, Induksi Bisa Picu Autisme

Tahun lalu, sebuah studi yang dilakukan oleh peneliti dari Duke University di Durham melaporkan, bayi yang lahir dengan persalinan induksi mengalami peningkatan risiko autisme. Menurut Simon Gregory, sang peneliti, 27% lebih anak-anak yang lahir dari ibu dengan proses persalinan induksi, augmentasi, atau keduanya, berisiko terkena autisme. Penelitian tersebut menggunakan data kelahiran lebih dari 600 ribu anak yang lahir pada 1990-1998 di North Carolina, termasuk 5 ribu data anak yang didiagnosis autisme.

Baca juga : Beasiswa d3 ke S1 Luar Negeri

Induksi merupakan prosedur medis yang menghadirkan kontraksi rahim sebelum rahim menunjukkan tanda tanda kelahiran atau sebelum terjadinya kontraksi. Sedangkan augmentasi ialah prosedur yang mempercepat persalin an dimana rahim sudah mengalami kontraksi terlebih dahulu namun ber jalan lambat.

Dari penelitian itu terungkap, paparan hormon oksitosin yang digunakan dalam induksi persalinan dapat memengaruhi sistem saraf bayi, yang mungkin saja berpengaruh dalam peningkatan risiko autisme. Terlebih bila ditambah dengan kondisi kesehatan ibu yang bisa memperbesar risiko tersebut, seperti: usia, diabetes selama kehamilan, dan kelahiran prematur. Waduh! Coba, mamil mana yang enggak ciut hatinya mengetahui hasil penelitian yang diterbitkan dalam jurnal JAMA Pediatrics pada 2014 itu?

TIDAK TERBUKTI Tenang, Ma, sudah ada studi terbaru yang menjelaskan bahwa induksi tidak meningkatkan risiko autisme pada anak. Studi terbaru tersebut dideklarasikan pada konferensi tahunan Society for Maternal-Fetal Medicine pada 5 Februari 2015 di San Diego. Peneliti mengungkap, proses induksi tidak berkaitan dengan peningkatan gangguan autisme pada anak. Para peneliti yang merupakan dokter serta psikolog dari University of Utah tersebut menggunakan dan menganalisis data anak-anak kelahiran 1998-2006.

Setelah membandingkan 2.500 anak dengan gangguan autisme dan 166 ribu anak tanpa autisme, ditemukan bahwa anak-anak yang terkena induksi persalinan, augmentasi, atau keduanya, TIDAK mengalami pe ningkatan peluang autisme, baik pada anak laki-laki maupun perempuan. Bahkan, peneliti telah menyesuaikan dengan faktor-faktor penting lain, seperti: kesehatan sang mama, status ekonomi keluarga, kondisi selama kehamilan, serta tahun kelahiran. Dengan begitu, studi terbaru berjudul “Autism Spectrum Disorder and Induced/Augmented Labor: Epidemiologic Analysis of a Utah Cohort” ini dianggap lebih valid dan relevan.

Sumber : https://ausbildung.co.id/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *