Keajaiban Bermain Origami

Banyak hal yang dipelajari prasekolah dari seni melipat kertas ini. Di antaranya konsep matematika dan bagaimana mengoordinasikan gerak mata dan tangan. Suatu hari Resta membelikan jagoan kecil- nya kertas lipat alias kertas origami. Radya (5), bingung melihat kertas warna-warni itu dan bertanya apakah itu.

Baca juga : toefl ibt jakarta

“Ini kertas origami, Nak. Ibu mau ajarin Radya melipat dan membuat sesuatu dari kertas-kertas ini.” “Umm…. seperti Ibu buatin pesawat kertas itu?” “Iya! Yuk, kita buat sama-sama, mulai dari bentuk ikan, mau?” Radya mengangguk senang dan penuh semangat. Bersama-sama, Resta dan Radya mulai membuat lipatan di kertas yang ada, sampai membentuk sebuah ikan. Lalu gantian Radya yang melipat sendiri, hingga ia bisa membuat ikan warna-warni. Sejak hari itu, Radya senang jika diajak bermain origami. PERKEMBANGAN KOGNITIF DAN MOTORIK Sudah sejak lama origami menjadi salah satu pembelajaran yang memfasilitasi perkembangan kognitif dan motorik anak. Lazim kita menemukan di kelas-kelas PAUD dan TK bagaimana belajar melipat kertas dan membuat beragam bentuk.

Dalam aktivitas origami, koordinasi dan kendali motorik memainkan peranan penting. Setiap lipatan kertas dihasilkan oleh interaksi pemikiran dan tindakan. Anak melihat bagaimana setiap lipatan menghasilkan satu bentuk tertentu, dan semakin banyak lipatan bisa menghasilkan wujud suatu benda. Ini juga mengajari anak apa yang disebut sebagai proses: berawal dari satu lembar kertas, secara bertahap dilipat sedemikian rupa, dan membentuk suatu benda. Sementara itu, tingkat kesulitan origami pun beragam, sehingga aktivitas ini cocok untuk diterapkan di berbagai tingkatan usia.

Kurt W. Fischer, seorang ahli psikologi perkembangan di University of Denver menjelaskan, perkembangan individu itu berkelanjutan dan naik secara bertahap. Pada setiap tahap, seseorang akan terus berkembang, tidak melulu sama di setiap tingkatnya. Perkembangan keterampilan harus didorong juga oleh lingkungan, agar keterampilan itu betul-betul dikuasai oleh individu tersebut. Sama halnya dengan anak, begitu anak ‘naik kelas’ atau bertambah usia, ia pun membutuhkan aktivitas yang lebih kompleks demi mengembangkan ragam keterampilan dirinya.

Sumber : https://pascal-edu.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *