Manfaat BBM Satu Harga

YUSPIN Prihatin, pendatang dari Klaten, Jawa Tengah yang kini menetap di Merauke, Papua tak menyangka usaha ternak ayamnya kini berkembang pesat. Tiap bulan lelaki ini bisa mengantongi omzet hingga Rp 300-an juta per bulan. Padahal, usaha itu dirintis sebagai “pelarian” karena cita-citanya menjadi pegawai negeri sipil (PNS) honorer tak terwujud. Kesuksesan usaha peternakan itu tak terlepas dari program BBM satu harga yang menyasar Merauke dan kabupaten lain di sekitarnya. Program yang digalakkan Jokowi-Jusuf Kalla itu berhasil menurunkan harga BBM, sama seperti harga di kota-kota di Pulau Jawa. “Di Papua, ternak ayam dan BBM saling berkaitan. Kami sangat butuh minyak tanah untuk memberi suhu panas bagi anak-anak ayam,” jelas Yuspin. Usahanya pun berkembang menjadi jual beli peralatan ternak. Sebelum ada program BBM satu harga, minyak tanah di Merauke bisa mencapai Rp 20.000 per liter. Untuk mendapatkannya pun susah, karena langka. Saat ini, harga di agen maupun stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) sama, Rp 3.300-Rp 3.500 per liter.

Ade Syahputra, pendatang dari Jakarta yang sudah menjadi warga Timika, Papua sejak 2010 lalu, juga bersyukur program BBM Satu Harga menjadikan biaya hidup di Timika semakin murah. “Dulu bayar ojek untuk berangkat kerja yang hanya 2 kilometer, harus bayar Rp 20.000, sekarang hanya Rp 5.000,” terang Ade. Untuk mendapatkan jasa ojek juga semakin mudah. Sejak harga BBM di Timika sama dengan di Jawa, jumlah tukang ojek kian banyak. Ekonom Institute for Development of Economic and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira mengakui, program BBM Satu Harga memang berhasil mendongkrak perekonomian dan kesejahteraan Indonesia bagian timur. Salah satu indikatornya, daya beli meningkat tercermin dari angka inflasi yang tinggi (lihat tabel). “Setelah adanya persamaan harga, uang yang sebelumnya digunakan untuk membeli BBM, dialokasikan untuk menabung atau kebutuhan lainnya,” jelasnya. Realokasi belanja masyarakat ini akan memicu pertumbuhan sektor lain seperti makanan minuman, ritel hingga perumahan. Penurunan biaya logistik akibat BBM Satu Harga juga berimbas pada naiknya aktivitas ekonomi di daerah pinggiran. Secara output, hal itu berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi di Maluku Papua yang mencapai 18,1% di triwulan II-2018, jauh di atas rata-rata nasional sebesar 5,27%. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat penyalur BBM satu harga hingga semester I-2018 mencapai 64 wilayah, meningkat pesat dibandingkan Oktober 2017 yang baru mencapai 25 titik.

Pemerintah berkomitmen melanjutkan program BBM Satu Harga hingga mencapai 160 titik pada tahun depan. Tahun ini, target BBM Satu Harga menyasar 73 lokasi dan tahun 2019 ke 30 daerah. Vice President Corporate Communication PT Pertamina Adiatma Sardjito optimistis Pertamina bisa sukses menjalankan program BBM Satu Harga. Tahun ini, Pertamina membidik 67 wilayah. “Tahun kedua ini, tantangan yang harus dihadapi semakin berat, yakni daerah yang ditetapkan pemerintah merupakan wilayah dengan infrastruktur darat dan laut terbatas,” papar Adiatma. Pada Juli dan Agustus 2018, Pertamina menambah penyaluran BBM Satu Harga di enam tempat. Di antaranya Distrik Fayit (Asmat, Papua), Gido (Nias, Sumatera Utara), dan Miangas, (Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara). Saat ini tingkat penggunaan BBM Satu Harga hanya sekitar 0,3% dari total penyaluran nasional. Catatan Pertamina, penyaluran BBM sepanjang Juni 2017-Juni 2018 sekitar 56.000 kiloliter. Dari jumlah itu, 70% jenis premium dan sisanya solar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *