Mengenal Ayam Kampung Vietnam

Mengenal Ayam Kampung Vietnam

Dalam tahun-tahun terakhir, industri unggas ras, khususnya broiler, di Vietnam mengalami kendala dalam produksi, ketatnya persaingan, dan anjloknya harga. Namun masih untung, masyarakat di sana memfavoritkan ayam umbaran yang mereka nilai lebih enak dan kualitas dagingnya le bih tinggi ketimbang impor. Menurut data Depar temen Peternak an, Kementerian Pertanian dan Pem bangunan Pedesaan, dua tahun silam, produksi unggas Vietnam sebanyak 328 juta ekor.

Sebanyak 52 juta ekor adalah broiler (ayam putih) dan sisanya ayam umbaran yang terdiri dari ayam berbulu berwarna. Lebih Disukai “Ayam umbaran mempunyai keunggulan dibandingkan broiler saat ini dan untuk masa yang akan datang,” ujar Prof. Dr. Le Thanh Hai. Alasannya, pengembangan produksi ayam umbaran cocok dengan selera konsumen. Apalagi produksi ayam yang mirip ayam kampung di Indonesia ini dapat diberi pakan sesuai sumber daya lokal, mudah, dan tidak perlu fasilitas pemerliharaan canggih. Kendati periode pemeliharaannya lama, 75 hari untuk mencapai bobot 1,8 – 2 kg/ekor, daging ayam ini lebih enak dan harganya lebih mahal ketimbang ayam ras.

Produksi daging ayam umbaran 2014 mencapai 560 ribu – 620 ribu ton, sedangkan unggas ras lebih rendah, 393 ribu – 402 ribu ton. Sehingga ayam um baran masih lebih mendominasi konsumsi daging ayam saat ini. Sayangnya, pembibitan ayam berwarna ini masih bersifat spontan, terpisah-pisah, dan berskala kecil. Belum pernah ada program pembibitan berskala besar. Di Vietnam terdapat 7,9 ju ta peternak ayam yang 70%-nya adalah peternak kecil dengan populasi 28 – 30 ekor. Sistem budidaya seperti ini jelas tidak berdaya saing secara internasional.

Demikian pula produktivitasnya rendah karena peternak tidak pernah mau berinvestasi untuk melakukan seleksi genetik. Target ke Depan Melihat kondisi tersebut, pada periode 2016 – 2020 Kementerian Pertanian dan Pembangunan Pedesaan menargetkan pengembangan populasi ayam berwarna ini hingga mencapai 60% dari total populasi unggas. Karena itu harus ada cara pembibitan baru. Demikian pula pola pemeliharaannya harus ditingkatkan dari yang tradisional menjadi semi intensif dan intensif berdasarkan arahan pemda setempat untuk mendongkrak produksi dan pengendalian penyakit. SK Perdana Menteri No.10/2008/QD bertanggal 16 Januari 2008 menjadi landasan hukum untuk pengembangan pembibitan sampai 2020 dan arah produksi peternakan secara umum. Untuk melakukan terobosan, pemerintah akan menyeleksi dan memperbanyak ayam lokal dan ayam asing agar adaptif terhadap kondisi setempat.

Sangat penting untuk memproduksi bibit secara mandiri, mempraktikkan manajemen pembibitan dengan fokus pence gahan penyakit, menerapkan teknologi pembibitan terkini, memperbarui fasilitas pembibitan, menerapkan standar operasional prosedur (SOP) teknik pembesaran sehingga mendapatkan ras dengan produktivitas tinggi. Sementara itu untuk fasilitas pemotongan dan pengolahan serta pemasarannya bisa bekerja sama dengan industri unggas ras. Meskipun produksinya menghadapi kendala dan tantangan, ayam berwarna ini diyakini akan berkembang pesat. Dengan harga eceran VND 90 ribu – 120 ribu/kg setara Rp23.600 – Rp70.800, ayam ini memberikan pendapatan yang stabil ketimbang unggas lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *