Untuk Meneruskan Suara Mereka Yang Hilang

ADA lam sejarah Indonesia: 1945, 1965, dan 1998. Dari ketiganya, 1998 adalah yang paling jarang singgah tiga tahun penting dadi sinema Indonesia. Perjuangan kemerdekaan laris diromantisasi para sineas Indonesia, sementara peristiwa 1965 sudah beberapa kali diungkap melalui flm produksi independen. Beda halnya dengan momen reformasi. Bahkan, setelah lebih dari satu dekade, jumlah flm yang bertutur tentang kondisi zaman pada dan menjelang akhir Orde Baru masih minim. Salah satunya Istirahatlah Kata-kata besutan Yosep Anggi Noen. Istirahatlah Kata-kata mengangkat sosok Wiji Thukul, sastrawan dan aktivis yang hingga kini belum ketahuan rimbanya.

Untuk tokoh dengan riwayat sekaya itu, Yosep Anggi Noen dan kawan-kawan mengambil lingkup cerita yang kecil. Selama 90 menit, kita menyaksikan sang penyair cadel bersembunyi di Pontianak, melarikan diri dari kejaran aparat negara. ”Pontianak adalah titik krusial dalam hidup Thukul. Setelah peristiwa Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli (Kudatuli) pada 1996, Thukul dan beberapa aktivis Partai Rakyat Demokratik dinyatakan sebagai tersangka. Untuk pertama kali Thukul resmi dinyatakan sebagai orang yang paling dicari dan diburu,” ujar Yulia Evina Bhara, produser Istirahatlah Kata-kata.

”Dari penelusuran saat riset, kami menemukan masa di Pontianak adalah titik balik dalam hidup Thukul. Ia akhirnya memutuskan teguh kembali berjuang, untuk bergabung dengan kawan-kawannya menjatuhkan Soeharto,” dia menambahkan. Istirahatlah Kata-kata mengungkap sosok Wiji Thukul melalui perspektif yang begitu personal. Ia lebih banyak hadir sebagai seorang suami dan bapak. Kiprah sastra dan aktivisme Thukul dibahasakan dari konsekuensinya kepada Sipon, istrinya, dan keluarganya yang ditegaskan sejak adegan pembuka flm. Seorang intel duduk di meja, sementara Sipon dan anaknya berdiri bergeming di hadapannya.

Di latar belakang, tampak seorang aparat lain mengacak-acak koleksi buku Thukul. Pilihan perspektif ini menarik. Tokoh sebesar Wiji Thukul tentu sudah banyak diangkat dalam berbagai media. Informasi tentang dia tersebar di mana-mana. Kehidupan sosialnya sudah menjadi pengetahuan umum, yang dalam flm ini diterjemahkan melalui beberapa teks pada awal dan akhir flm. Satu hal yang belum banyak terungkap: bagaimana sesungguhnya Orde Baru beroperasi dan mewujudkan terornya terhadap warganya sendiri. Yosep Anggi Noen dan kawan-kawan mewujudkannya melalui kosa-gambar yang intim. Sepanjang flm, kamera tidak banyak beranjak dari protagonis kita.

Kamera terus lekat dan dekat dengan wajah Thukul, yang hampir selalu tampak ketakutan sepanjang flm. Penyebab ketakutannya sendiri tak pernah tampak. O? screen. Pada saat ada potensi ancaman masuk dalam pandangan kamera, ia hadir dalam bentuk yang bersahaja, sebagai warga yang lalu-lalang atau orang yang duduk di kursi sebelah saat cukur rambut. Menurut Yulia, ada beberapa sutradara yang sempat dipertimbangkan untuk menggarap Istirahatlah Kata-kata, sebelum dipercayakan kepada Yosep Anggi Noen. ”Anggi adalah orang yang percaya pada sinema.

Anggi mempelajari Wiji Thukul, yang percaya pada kekuatan kata-kata,” Yulia menjelaskan. ”Anggi selalu politis dalam karya-karya film nya. Namun, pada saat yang sama, flmflmnya sangat estetis. Film ini butuh perspektif juga estetika. Keduanya ada pada Anggi.” Film ini terpilih tanpa banyak argumen panas antarjuri. ”Banyak sekali cara untuk mengambil point of view sebuah flm. Yosep memilih dengan jenius. Dia paham tak bisa membuat dengan skala besar, mungkin karena dana atau yang lain, maka dia berbicara lewat kesunyian,” kata salah seorang juri. Banyak hal yang dihadirkan tanpa verbalisasi, hanya dengan adegan. Semua tokoh dalam flm ini tak lepas dari perjalanan Thukul.

Bahkan adegan anak kecil yang menangis saat gelap menambah perasaan kerinduan Thukul kepada anaknya. Thukul juga terbayang bagaimana kalau dia ditangkap saat gelap. Istirahatlah Kata-kata hadir ketika sinema Indonesia sedang gandrung pada sejarah. Hampir setiap tahun ada produksi tentang tokoh bersejarah, misalnya flm Rudy Habibie (Hanung Bramantyo, 2015), yang merupakan prekuel dari Habibie & Ainun (Faozan Rizal) yang sukses secara komersial empat tahun lalu. Sayangnya, flm-flm itu sekadar mengulang masa dan peristiwa yang sudah berlalu. Sejarah hadir sebatas bentuk belaka. Nilai produk si flm-flm itu memang megah, tapi perspektif yang ditawarkan begitu minim. Istirahatlah Kata-kata, sebaliknya, tampil begitu bersahaja.

Di balik kesederhanaannya, flm ini menyasar pada tingkat paling mendasar dalam hidup kita: posisi kita sebagai warga negara di hadapan rezim yang lalim. ”Banyak yang tidak tahu tentang apa yang terjadi pada 1998 dan beberapa tahun sebelumnya. Harapan kami, flm bisa menjadi salah satu penanda masa bahwa demokrasi yang kita hirup hari ini terjadi berkat perjuangan dan pengorbanan banyak orang pada masa-masa yang sulit,” tutur Yulia. ”Salah satu di antara mereka adalah Wiji Thukul. Sampai sekarang ia bersama 12 orang lainnya belum kembali. Mereka hilang karena keyakinannya untuk memperjuangkan demokrasi yang kita hirup hari ini.”

Istirahatlah Kata-kata muncul atas prakarsa beberapa orang. Titik mulanya adalah inisiatif Okky Madasari dari Yayasan Muara memberikan penghargaan untuk Wiji Thukul dalam ASEAN Literary Festival pada 2014. Juga gerakan Barisan Pengingat yang membuat mural puisipuisi Wiji Thukul di dinding kota. Mulailah terjadi perbincangan untuk memproduksi flm, yang dirintis oleh Okky Madasari dan Tunggal Pawestri, yang menjadi produser eksekutif Istirahatlah Kata-kata. Mereka mengajak Yulia dan kawan-kawan mewujudkan flm ini. ”Istirahatlah Kata-kata merupakan upaya untuk terus bersuara, melawan impunitas atas kasus-kasus kemanusiaan yang hingga hari ini belum dituntaskan,” ucap Yulia. Sebagai rezim, Orde Baru mungkin sudah tiada. Sebagai pola pikir, ia masih ada dan berlipat ganda. Sekarang adalah waktu yang tepat untuk Istirahatlah Kata-kata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *